Rabu, 01 April 2015

Pentingnya penggunaan bahasa baku

Komunikasi di era globalisasi ini merupakan salah satu hal vital dan paling cepat kemajuannya. Antara satu negara dengan negara lain yang saling membutuhkan dapat dengan cepat saling berhubungan dengan komunikasi . Setiap negara memiliki satu bahasa yang ditetapkan sebagai bahasa resmi. Negara kita, Indonesia memiliki bahasa resmi nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa daerah yang terdapat di Indonesia sendiri lebih dari 746 macam. Betapa kaya bangsa Indonesia dari segi  bahasanya. 
Bahasa baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang diterima untuk dipakai dalam situasi resmi. Seperti dalam perundang-undangan, surat-menyurat, dan rapat resmi. Bahasa baku terutama digunakan sebagai bahasa persatuan dalam masyarakat bahasa yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa baku umumnya ditegakkan melalui kamus (ejaan dan kosakata), tata bahasa, pelafalan, lembaga bahasa, status hukum, serta penggunaan di masyarakat (pemerintah, sekolah, dll).
Bahasa baku tidak dapat dipakai untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar keempat penggunaan itu, dipakai ragam tak baku.

1.      Struktur Ragam Baku dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia ragam baku dapat dikenali dari beberapa sifatnya. Seperti halnya dengan bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia menggunakan bahasa orang yang berpendidikan sebagai tolok ukurnya. Ragam ini digunakan sebagai tolok ukur karena kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan. Pengembangan ragam bahasa baku memiliki tiga ciri atau arah, yaitu:
1. Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.
2. Bersifat kecendikiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal.
3. Keseragaman. Di sini istilah “baku” dimaknai sebagai memiliki kaidah yang
seragam. Proses penyeragam bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.
Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) menghimpun ciri-ciri kaidah bahasa Indonesia baku dalam buku  berjudul “Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia”, di samping Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Dalam kedua naskah tersebut terdapat  banyak kaidah yang merupakan pewujudan ciri bahasaIndonesia baku. Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah  bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat. Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam  bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.

• Baku - Tidak Baku :
Apotek - apotik
Atlet - atlit
Bus - bis
Cenderamata - cinderamata
Konkret - konkrit-kongkrit
Sistem  - sistim
Telepon - tilpon-telpon
 Pertanggungjawaban - pertanggung jawaban

• Penggunaan ragam baku
‒ Surat
‒ Menyurat antarlembaga
‒ Laporan keuangan
‒ Karangan ilmiah
‒ Lamaran pekerjaan
‒ Surat keputusan
‒ Perundangan
‒ Nota dinas
‒ Rapat dinas
‒ Pidato resmi
‒ Diskusi
‒ Penyampaian pendidikan

2.  Beberapa kesalahan yang menghasilkan kalimat tidak baku:
1. Terpengaruh bahasa daerah -> Bukumu ada di saya ~ Bukumu ada pada saya. 
2. Terpengaruh bahasa asing -> Orang yang mana berbaju putih itu abangku. ~ Orang yang berbaju putih itu abangku.
3. Kerancuan -> Di sekolahku diadakan pesta- Sekolahku mengadakan pesta.
4. Kemubaziran -> - Kami semua sudah hadir.- Kami sudah hadir.
5. Terpengaruh bahasa tutur -> Saya sudah bilang sama dia.- Saya sudah berkata kepada dia.
6. Salah susunan kata -> Kami sudah baca suratmu.- Suratmu sudah kami baca.

3. Pengaruh Penggunaan Bahasa Baku dalam Sehari-hari
Dengan menggunakan kalimat baku dengan intensitas yang cukup sering,  pengguna akan mulai terbiasa yang akan menghantarkan kepada berbahasa Indonesia yang baik sesuai dengan pola dan aturan yang seharusnya. Apabila kita terbiasa dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak formal dan tercampur dengan serapan bahasa asing, gaul dan betawi, maka kita akan mengalami kesulitan dalam menulis karya tulis, berpidato atau kegiatan-kegiatan resmi lainnya yang membutuhkan ragam bahasa baku dalam penggunaannya. Dengan melatih berbahasa baku, pengguna bahasa akan terbiasa menemukan kosakata, sehingga tidak monoton dalam penggunaan kata. Pengaruh positif dari  penggunaan kalimat baku dalam berbahasa diantaranya adalah:
a.       memperkaya pilihan kosakata agar tidak terjadi penggunaan satu kata  berulang-ulang
b.      memperlancar penulisan karya tulis atau pembicaraan resmi
c.       melestarikan ragam baku Bahasa Indonesia agar tetap sesuai dengan aturan dan pola bahasa sesuai Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia, di samping Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

4.  Kesimpulan
          Bahasa sebagai Alat Komunikasi. Komunikasi adalah tahapan lebih jauh dari ekspresi diri.Komunikasi pun tidak akan sempurna jika orang yang menangkap komunikasi kita tidak mengertiapa yang kita sampaikan. Maka dari itu Menggunakan bahasa yang baik sangat penting Karena dari tata cara bahasa seseorang kita dapat menilai kecerdasan orang tersebut.
 Apabila bahasa yang digunakan baik dan benar maka bagi pendengar  tentunya lebih mudahdipahami. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atassuatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita.
 Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. Karena fungsi bahasa adalah untuk menyampaikan informasi ke pada orang lain agar orang yang kita beri informasi tersebut mengerti dan paham.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar